Senin, 10 Juni 2024

 "Generasi Emas Malah Bikin Cemas!!", BPS mengungkapkan jutaan Gen Z di Indonesia tidak mau kuliah maupun bekerja.



Generasi Z, atau Gen Z, adalah mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, Gen Z kini mulai memasuki dunia kerja. Namun, data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan Gen Z lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Fenomena ini memunculkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran mengenai masa depan ekonomi dan sosial generasi muda ini.

Dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa 9,9 juta Generasi Z di Indonesia tidak mau kuliah maupun bekerja. angka ini menunjukkan masalah yang serius dalam transisi generasi muda ke jenjang berikutnya, selain itu masalah ini akan menghambat pencapaian visi Indonesia Emas 2045. 

Faktor Penyebab Pengangguran di Kalangan Gen Z

Ada banyak faktor yang menyebabkan banyak dari kalangan gen z berstatus pengangguran, ada yang berasal dari faktor internal maupun eksternal. Berikut merupakan faktor faktor utamanya: 

Ketidaksesuaian Keterampilan



Keterampilan merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam hidup, termasuk dalam pendaftaran ke perguruan tinggi bahkan di dunia kerja. Perkembangan teknologi industri mengharuskan adanya peningkatan kualitas SDM yang masih sulit untuk diikuti oleh mayoritas Gen Z.

Pandemi COVID-19



Tidak bisa dipungkiri pandemi COVID-19 telah memperburuk situasi pengangguran di kalangan Gen Z. Selain penurunan kualitas SDM, pendapatan masyarakat pun juga jatuh, banyaknya perusahaan terpaksa mengurangi jumlah karyawan atau bahkan menutup usahanya. Sebagai hasilnya, banyak pendapatan dan lapangan kerja menjadi sangat terbatas.

Persaingan yang Ketat



Seiringberjalannya waktu, Sumber Daya Manusia juga mengikuti perkembangan teknologi dan zaman. Dengan banyaknya lulusan baru,serta persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi sangat ketat. Gen Z tidak hanya bersaing dengan sesama mereka, tetapi juga dengan generasi sebelumnya yang memiliki lebih banyak pengalaman.

Pengalaman Kerja


Banyak perusahaan yang mencari karyawan dengan pengalaman kerja, jika dipikir hal ini lumayan ironis karena selain mencari nafkah, banyak juga orang yang mencari pengalaman kerja . Hal ini menjadi penghalang utama, apalagi persaingan akan lebih sulit karena jumlah lapangan pekerjaan yg sempit. Bahkan lulusan dari universitas ternama tidak menjamin diterima pada dunia industri.

Dengan faktor faktor eksternal tersebut, banyak lulusan sekolah yang tidak bisa melanjutkan bekerja atau ke pergururan tinggi. Jika hal ini terus berlanjut, maka angka pengangguran di Indonesia akan semakin tinggi.


Dampak Pengangguran di Kalangan Gen Z


Dampak Ekonomi



Dampak pertama tentu saja pada tingkat ekonomi. Dalam skala panjang, hal ini merugikan untuk semua orang. Kurangnya pendapatan membuat daya beli menurun. Hal ini diperparah oleh Gen Z yang lebih suka membeli produk luar, yang pada akhirnya mengurangi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Dampak Sosial dan Psikologis



Pengangguran dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. Bagi Gen Z, yang seringkali memiliki harapan tinggi terhadap masa depan mereka, kegagalan dalam mendapatkan pekerjaan dapat menurunkan kepercayaan diri dan motivasi.


Kesenjangan Sosial


Pengangguran yang tinggi juga dapat memperburuk kesenjangan sosial. Mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi yang kurang beruntung mungkin memiliki akses yang lebih sedikit terhadap pendidikan dan pelatihan, sehingga peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan semakin kecil. Hal itu secara tidak langsungjuga memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.


Bagaimana Cara Mengatasi Pengangguran di Kalangan Gen Z?

Tingkat pengangguran yang tinggi memanglah sangat berbahaya, tetapi hal tersebut dapat diminimalisir dengan terus meningkatkan kualitas dari setiap individu, bersaing dengan sehat, dan membuka usaha atau wiraswasta sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan. Selain hal itu, berikut merupakan 


Pendidikan dan Pelatihan yang Relevan


Menentukan jenjang pendidikan yang cocok dan diinginkan oleh peserta didik merupakan hal yang penting. Pasalnya setiap individu memiliki keahlian masing masing sehingga perlu untuk menyesuaikan dengan program studi yang ada. Misal, siswa yang lebih ahli dalam bidang teknik akan sangat bagus untuk masuk pada sekolah SMK Teknik karena program pelatihan vokasional dan magang dapat memberikan pengalaman praktis yang dibutuhkan oleh pasar kerja.

Dukungan dari Pemerintah dan Sektor Swasta


Lowongan dari BUMN dan sektor swasta dapat bekerja sama untuk menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, membuat kriteria pekerja yang sesuai serta menyediakan program pelatihan keterampilan yang relevan.

Pengembangan Kewirausahaan



Mendorong Gen Z untuk memulai usaha mereka sendiri bisa menjadi solusi jangka panjang. Pemerintah dan lembaga keuangan dapat memberikan bantuan modal dan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan. Selain itu, semakin banyak usaha swasta yg didirikan, maka akan smakin luas lapangan kerja yang tersedia. 

Teknologi dan Inovasi



Gen Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi. Menggunakan teknologi untuk menciptakan peluang kerja baru di sektor digital bisa menjadi cara efektif untuk mengatasi pengangguran. Platform online untuk online shopping, freelancing, content creator dan remote work bisa menjadi alternatif yang baik.



Kesimpulan

Pengangguran di kalangan Gen Z adalah masalah serius yang memerlukan perhatian dan tindakan dari berbagai pihak. Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan yang relevan, dukungan pemerintah, dan inovasi teknologi, tantangan ini dapat diatasi. Masa depan Gen Z, dan dengan demikian masa depan ekonomi dan sosial kita, bergantung pada bagaimana kita menangani isu pengangguran ini sekarang.

Senin, 01 April 2024

Warisan Kebudayaan: Wuwu

 

foto wuwu atau bubu

DEFINISI WUWU

Wuwu atau yang sering disebut bubu adalah alat untuk menangkap ikan atau jebakan yang dibuat dari saga atau bambu yang dianyam kemudian dipasang dalam air pada kedalaman tertentu. Di setiap daerah Indonesia, alat satu ini rupanya memiliki penyebutan nama yang beragam. Misalnya di Flores Timur, bubu biasa disebut dengan nama lokal Wuo. Sementara itu nama berbeda juga dimiliki masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat yang lebih sering menyebutnya dengan istilah Lukah.

 

Salah satu sumber menyebut jika bubu sebenarnya sudah digunakan sejak kisaran tahun 1930 dan 1940-an, salah satu alasan yang membuat bubu tradisional dipastikan tidak merusak lingkungan dan dapat membuat sumber daya tetap seimbang adalah karena kebiasaan masyarakat zaman dulu yang akan melepaskan ikan-ikan berukuran kecil.

PERKEMBANGAN WUWU ATAU BUBUNG

Dalam versi tradisional, belahan bambu kecil disusun sedemikian rupa sehingga membentuk silinder dengan panjang 1,5 meter dan berdiameter 30 sentimeter. bubu dengan jenis inimasih belum bisa digunakan di laut lepas,tetapi hanya diletakkan pada jalur sungai yang biasa dilalui ikan. Cara penggunaan bubu sangatlah mudah yaitu dengan membenamkan bubu ke dalam sungai kemudian didiamkan selama satu malam atau satu hari. Keesokan harinya, bubu baru bisa diambil dan dengan sejumlah ikan yang sudah terperangkap di dalamnya.

Bubu apung kubus

 Berbeda dengan sebelumnya, bubu kini sudah memiliki bentuk yang beragam. Namun dari sekian banyak jenis bubu, ada satu jenis yang paling banyak digunakan yaitu bubu apung. Bubu Apung memiliki bentuk bervariasi seperti kubus dan tabung, sesuai namanya bubu apung dilengkapi dengan pelampung yang terbuat dari dari bambu atau rakit bambu pada bagian atasnya.



WUWU SEBAGAI KESENIAN DAERAH

 

Di daerah tertentu, bubu tak sekedar untuk menagkap ikan, misalnya di Sumatra Barat. Bagi Suku Minangkabau, bubu yang lebih dikenal dengan nama Lukah ternyata menjadi media kesenian tradisional yang unik loh. Kesenian tersebut dinamai Lukah Gilo.

Istilah Lukah dapat diartikan sebagai alat bantu untuk menangkap ikan, sedangkan Gilo bermakna gila. Lukah Gilo dimainkan pada acara-acara tertentu seperti pengangkatan penghulu, perhelatan nagari, dan upacara perkawinan. Jika dilihat sekilas, kesenian yang satu ini serupa dengan Jailangkung, yang mana kedua kesenian tersebut memiliki kesamaan yaitu sebagai ritual pemanggilan arwah atau roh dengan media tertentu (dalam kesenian lukah gilo menggunakan bubu yg dibalut jarit menyerupai boneka) dan dikendalikan oleh seorang pawang yang disebut Kulipah.

 Ritual kesenian tradisional satu ini sangatlah unik,beberapa orang memegang dan menahan lukah dengan telapak tangan secara bersama-sama. Selanjutnya, kulipah membacakan mantra sehingga membuat Lukah seolah-olah bergerak dengan sendirinya, gerakan tersebut semakin lama semakin tak terkontrol mengarah kesana-kemari sampai akhirnya berhenti seirama dengan mantra yang telah selesai dirapalkan oleh kulipah. Lukah gilo sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sejak tahun 2018 lalu.


  "Generasi Emas Malah Bikin Cemas!!", BPS mengungkapkan jutaan Gen Z di Indonesia tidak mau kuliah maupun bekerja. Generasi Z, at...