Senin, 01 April 2024

Warisan Kebudayaan: Wuwu

 

foto wuwu atau bubu

DEFINISI WUWU

Wuwu atau yang sering disebut bubu adalah alat untuk menangkap ikan atau jebakan yang dibuat dari saga atau bambu yang dianyam kemudian dipasang dalam air pada kedalaman tertentu. Di setiap daerah Indonesia, alat satu ini rupanya memiliki penyebutan nama yang beragam. Misalnya di Flores Timur, bubu biasa disebut dengan nama lokal Wuo. Sementara itu nama berbeda juga dimiliki masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat yang lebih sering menyebutnya dengan istilah Lukah.

 

Salah satu sumber menyebut jika bubu sebenarnya sudah digunakan sejak kisaran tahun 1930 dan 1940-an, salah satu alasan yang membuat bubu tradisional dipastikan tidak merusak lingkungan dan dapat membuat sumber daya tetap seimbang adalah karena kebiasaan masyarakat zaman dulu yang akan melepaskan ikan-ikan berukuran kecil.

PERKEMBANGAN WUWU ATAU BUBUNG

Dalam versi tradisional, belahan bambu kecil disusun sedemikian rupa sehingga membentuk silinder dengan panjang 1,5 meter dan berdiameter 30 sentimeter. bubu dengan jenis inimasih belum bisa digunakan di laut lepas,tetapi hanya diletakkan pada jalur sungai yang biasa dilalui ikan. Cara penggunaan bubu sangatlah mudah yaitu dengan membenamkan bubu ke dalam sungai kemudian didiamkan selama satu malam atau satu hari. Keesokan harinya, bubu baru bisa diambil dan dengan sejumlah ikan yang sudah terperangkap di dalamnya.

Bubu apung kubus

 Berbeda dengan sebelumnya, bubu kini sudah memiliki bentuk yang beragam. Namun dari sekian banyak jenis bubu, ada satu jenis yang paling banyak digunakan yaitu bubu apung. Bubu Apung memiliki bentuk bervariasi seperti kubus dan tabung, sesuai namanya bubu apung dilengkapi dengan pelampung yang terbuat dari dari bambu atau rakit bambu pada bagian atasnya.



WUWU SEBAGAI KESENIAN DAERAH

 

Di daerah tertentu, bubu tak sekedar untuk menagkap ikan, misalnya di Sumatra Barat. Bagi Suku Minangkabau, bubu yang lebih dikenal dengan nama Lukah ternyata menjadi media kesenian tradisional yang unik loh. Kesenian tersebut dinamai Lukah Gilo.

Istilah Lukah dapat diartikan sebagai alat bantu untuk menangkap ikan, sedangkan Gilo bermakna gila. Lukah Gilo dimainkan pada acara-acara tertentu seperti pengangkatan penghulu, perhelatan nagari, dan upacara perkawinan. Jika dilihat sekilas, kesenian yang satu ini serupa dengan Jailangkung, yang mana kedua kesenian tersebut memiliki kesamaan yaitu sebagai ritual pemanggilan arwah atau roh dengan media tertentu (dalam kesenian lukah gilo menggunakan bubu yg dibalut jarit menyerupai boneka) dan dikendalikan oleh seorang pawang yang disebut Kulipah.

 Ritual kesenian tradisional satu ini sangatlah unik,beberapa orang memegang dan menahan lukah dengan telapak tangan secara bersama-sama. Selanjutnya, kulipah membacakan mantra sehingga membuat Lukah seolah-olah bergerak dengan sendirinya, gerakan tersebut semakin lama semakin tak terkontrol mengarah kesana-kemari sampai akhirnya berhenti seirama dengan mantra yang telah selesai dirapalkan oleh kulipah. Lukah gilo sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sejak tahun 2018 lalu.


  "Generasi Emas Malah Bikin Cemas!!", BPS mengungkapkan jutaan Gen Z di Indonesia tidak mau kuliah maupun bekerja. Generasi Z, at...